Bolehkah Suami Menolak Ajakan Istri untuk Berhubungan? Simak Penjelasan Buya Yahya


Foto: Ilustrasi - Berhubungan intim. 

Detik Kabar - Bagaimana hukum suami menolah ajakan istri untuk berhubungan intim?

Apakah berdosa?

Simak penjelasan Buya Yahya berikut ini:

Suami berkewajiban memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.

Dalam Islam, tanggung jawab mencari nafkah ada pada suami.

Suami sebagai kepala keluarga wajib hukumnya memberikan nafkah.

Jika tidak dilakukan, maka ia akan mendapatkan dosa besar.

Tak hanya nafkah lahir saja, suami juga harus memberikan nafkah batin kepada istri.

Allah SWT memerintahkan suami untuk menggauli istrinya dengan cara yang baik.

Lantas, bagaimana jika suami menolak ajakan hubungan intim dari sang istri?

Buya Yahya memberikan penjelasan terkait hal tersebut.

Hal itu seperti dilansir dari video yang diunggah di YouTube Al-Bahjah TV pada 25 Juli 2021.

Buya Yahya mengingatkan jangan menganggap sepele perihal hubungan suami istri.

Ketika pasangan menolak ajakan berhubungan, ada baiknya kita mengoreksi diri terlebih dahulu.

"Hubungan suami istri itu jangan dianggap hal sepele, di samping semuanya harus bisa saling mengerti, saling menghargai, dan juga ada kiat untuk saling menyenangkan pasangan," kata Buya Yahya.

"Di saat pasangan ogah-ogahan (berhubungan), maka pertama yang harus kita koreksi adalah diri kita.

Mungkin saat kita mengajaknya bukan di waktu yang tepat," imbuhnya.

Buya Yahya juga mengingatkan suami istri harus saling memahami dalam hal berhubungan intim.

Keduanya harus saling berkomunikasi sehingga terhindar dari prasangka buruk.

"Harus ada komunikasi hati, komunikasi rasa, bukan hanya sekadar syahwat, jadi dengan begini Insya Allah akan terhindar dari prasangka-prasangka," tutur Buya Yahya.

Selain itu, Buya Yahya juga menganjurkan ada baiknya suami menuruti kemauan istri terkait hubungan intim.

Menurut ajaran Islam, istri diwajibkan menuruti kemauan seksual suami, maka sebaliknya sang suami juga harus bersikap demikian.

"Bagi suami hendaknya, di saat istri punya hajat demikian, dia adalah orang beriman karena dia beriman maka dia ingin punya hajat diselesaikan dengan pasangannya.

Pasangan harus paham dalam menyelesaikan itu, tidak harus dengan satu model cara, yang penting tidak diharamkan Allah, maka selesaikan," pungkasnya.

Bagaimana Jika Suami Rajin Beri Jatah Uang ke Ibu Tapi Itung-itungan ke Istri? Ini Kata Buya Yahya

Suami wajib hukumnya memberi nafkah kepada istri dan anak.

Dalam ajaran Islam, suami berkewajiban membuat istri dan anak merasa tercukupi.

Di sisi lain, seorang anak juga dianjurkan untuk berbagi rezeki kepada keluarga terutama pada orangtuanya.

Lantas, bagaimana jika kita dihadapkan pada kondisi dimana suami rajin memberi jatah uang kepada ibunya, namun perhitungan kepada istri dan anak?

Meski nafkah telah tercukupi, para istri mungkin pernah mengeluhkan sikap suami yang perhitungan dalam hal lain.

Sementara itu, suami sangat royal kepada orangtuanya.

Buya Yahya pun memberi penjelasan terkait hal tersebut.

Hal itu terlihat di video yang diunggah di kanal YouTube Buya Yahya pada 8 Februari 2021 lalu.

"Anda semestinya bangga punya suami seperti itu, dia sangat peduli dengan ibundanya, artinya suami anda suami yang sangat berkah.

Dan dia bukan dzolim kepada anda, bukan tidak memberi nafkah kepada anda," ujar Buya Yahya.

Buya Yahya menegaskan sikap itu merupakan sesuatu yang wajar dilakukan seorang anak kepada orangtuanya.

"Anak itu tetap anak sampai kapanpun, jadi mungkin kemampuan suami ya seperti itu.

Dia ingin membagi rezeki, kalau dengan istri bisa membatasi, kalau dengan anak bisa membatasi,

tapi dengan permintaan ibunda mungkin dia tidak bisa karena dia begitu hormatnya dengan ibundanya," kata Buya Yahya.

Buya Yahya pun mengingatkan para istri untuk tak bersikap cemburu jika sang suami memberikan perhatian lebih kepada ibundanya.

Ia justru menganjurkan para istri untuk bersikap lebih perhatian kepada ibunda sang suami.

"Karena anda cemburu, suami anda kok baik sama ibundanya, anda ingin mengambil hati suami anda, gampang sederhana caranya,

anda mengabdi kepada ibundanya yang lebih istimewa, nanti suami anda jatuh cinta ke sekian kalinya kepada anda," tutur Buya Yahya.

Alih-alih merasa risih, Buya Yahya mengingatkan para istri untuk mendukung sikap sang suami yang berbakti kepada orangtuanya.

Karena pada intinya, hal terpenting adalah suami tak lupa mencukupi kebutuhan anak dan istri.

"Intinya tercukupi, dan cukup itu sendiri adalah, bisa saja disesuaikan,

artinya bukan anda menganggap cukup, yang anda ukur adalah orang yang lebih dari anda kebutuhannya," ungkapnya.

"Jangan anda merasa risih dengan perilaku itu, mulai hari ini harus berani mendukung kepada suami anda," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di TribunNewsmaker.com dengan judul Bagaimana Hukumnya Suami Menolak Diajak Berhubungan oleh Istrinya? Simak Penjelasan Buya Yahya

LihatTutupKomentar