Agar Mudah Saat Bepergian, Pria Ini Nekat Bikin Tato Barcode Sertifikat Vaksin Covid-19 di Tubuhnya


Foto: Seorang pria berusia 22 tahun nekat mentato tubuhnya bergambar barcode sertifikat vaksin Covid-19 dan menjadi viral di media sosial. 

Detik Kabar – Seorang pria berusia 22 tahun nekat membuat tato di tubuhnya bergambar barcode sertifikat vaksin Covid-19.

Bukan tanpa alasan, pria ini nekat mentato tubuhnya bergambar barcode sertifikat vaksin Covid-19 agar mudah saat bepergian.

Memang, sejumlah negara di dunia telah mewajibkan warganya yang ingin melakukan pertemuan dan perjalanan untuk menunjukkan sertifikat vaksin Covid-19

Tidak heran jika sejumlah orang pada akhirnya melakukan berbagai cara agar sertifikat vaksinnya selalu dibawa ketika bepergian.

Namun, pria bernama Andrea Colonnetta asal Italia ini memilih cara yang terbilang cukup esktem.

Mahasiswa yang berusia 22 tahun itu nekat mentato tubuhnya bergambar barcode sertifikat vaksin Covid-19 dan menjadi viral di media sosial.

Andrea menato gambar barcode sertifikat vaksinnya di lengan kiri atasnya.

"Ini pasti sesuatu yang orisinal, saya suka tampil beda," kata Colonnetta, dari kota selatan Reggio Calabria, dikutip dari The Local, Selasa (24/8/2021).

Barcode itu nantinya akan berfungsi ketika Andrea melakukan scan di tempat-tempat khusus, seperti masuk ke stadion atau pusat perbelanjaan.

Pemerintah Italia telah mewajibkan warganya sejak 6 Agustus 2021 untuk memiliki barcode sertifikat vaksin Covid-19.

Nantinya, mereka akan diminta melakukan scan barcode untuk masuk ke bioskop, museum, dan gedung olahraga serta restoran.

Andrea mengatakan dia telah menerima suntikan dua dosis vaksin covid-19.

Ia menambahkan bahwa, setelah video tato dirinya viral di TikTok dan juga Intagram, ia mendapat pertengan dari keluarga.

Sebab, orang tua Andrea tidak setuju atas tindakannya yang mentato lengannya dengan barcode sertifikat vaksin Covid-19

"Tentu saja mereka mendorong saya untuk tidak terlalu gegabah dan untuk lebih merenungkan berbagai hal,” kata Andrea.

Tetapi, kata Andrea, barcode itu berfungsi dan memudahkannya untuk bepergian dan mengunjungi sejumlah tempat.

Sebuah video yang diposting di TikTok oleh Pellerone menunjukkan, Andrea yang mengenakan masker memasuki restoran cepat saji dan mengangkat lengannya untuk melakukan scan barcode.

Seorang penjaga keamanan di pintu masuk terlihat memindai barcode di lengannya.

Video tersebut telah ditonton lebih dari satu juta pengguna TikTok.

Bolehkan Cetak Sertifikat Vaksin?

Dilansir dari Serambinews.com, belakangan ini media sosial sedang diramaikan dengan penawaran jasa pencetakan sertifikat vaksin Covid-19 dalam bentuk fisik.

Penawaran cetak sertifikat vaksin Covid-19 yang sering dijumpai yaitu berbentuk kartu seukuran KTP atau kartu ATM.


Foto: Sertifikat vaksin Covid-19 yang dicetak menjadi kartu seukuran KTP. (SERAMBINEWS.COM/YENI HARDIKA)

Lantas, apakah boleh mencetak kartu vaksin dengan bentuk demikian?

Perlukah sertifikat vaksin Covid-19 dicetak secara fisik?

Sebenarnya, tidak ada persyaratan yang mengharuskan masyarakat menggunakan sertifikat dalam bentuk cetak, baik dari penyedia layanan perjalanan maupun Kementerian Kesehatan.

Seperti dimuat di Kompas.com pada (07/07/2021), Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, Kemenkes tidak mengatur ketentuan boleh-tidaknya sertifikat vaksinasi Covid-19 dicetak dalam bentuk fisik.

"Ini (cetak sertifikat) tidak kami atur ya," katanya seperti dikutip dari Kompas.com, Jumat (13/8/2021).

Rawan penyalahgunaan data pribadi

Memilih mencetak sertifikat vaksin dalam bentuk fisik, itu artinya masyarakat harus bisa menjaga agar tak tercecer apalagi hilang.

Sebab dalam sertifikat vaksin tertera informasi data diri penting meliputi:

- Nama lengkap yang dicantumkan pada sertifikat
- Nomor Induk Kependudukan (NIK)
- Tanggal lahir
- Kode batang (barcode)
- ID
- Tanggal vaksin diberikan
- Informasi vaksinasi dosis ke berapa
- Merek vaksin yang diperlukan
- Nomor batch vaksin
- Pernyataan kesesuaian dengan peraturan Menteri Kesehatan Indonesia

Nadia yang baru-baru ini dihubungi oleh Kompas.com kembali mengatakan, pencetakan sertifikat vaksin menjadi tanggung jawab pribadi penerima vaksin.

"Ini tanggung jawab pribadi masing-masing ya dan pilihan masing-masing," ujar Nadia seperti dimuat Kompas.com pada Kamis (12/8/2021).

Boleh atau tidaknya mencetak sertifikat vaksin kembali pada kesadaran masyarakat.

Selain itu, mencetak sertifikat vaksin dengan menggunakan jasa cetak juga berisiko terhadap kebocoran data pribadi.

Apalagi jika gegabah mengirimkan tautan maupun sertfikat tersebut kepada orang tak dikenal alias penyedia jasa cetak.

Bisa saja orang tersebut menyalahgunakan data yang dipakai untuk berbagai hal negatif lainnya.

Misalnya mengakses pinjaman online, membobol kartu kredit atau tindak kriminal lainnya.

Nadia pun menekankan, Kemenkes tidak akan memberikan saran spesifik apakah sebaiknya sertifikat vaksinasi dicetak sendiri atau melalui jasa pencetakan.

"Kalau masyarakat bisa menjaga tidak hilang, silakan saja, itu lebih memudahkan," lanjut dia.

Namun, yang perlu diketahui adalah ada data pribadi yang tercantum dalam sertifikat vaksinasi.

Sangat penting untuk menjaga keamanan data pribadi yang tertera dalam sertifikat vaksinasi Covid-19.

Sementara untuk tindakan pencegahan tersebarnya data juga dapat dilakukan dengan tidak mengunggah sertifikat vaksin ke media sosial.

Sertifikat vaksinasi yang telah disimpan dapat digunakan sebagai syarat perjalanan, dan hanya boleh diperlihatkan kepada petugas yang berwenang.


Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/08/24/agar-mudah-saat-bepergian-pria-ini-nekat-bikin-tato-barcode-sertifikat-vaksin-covid-19-di-tubuhnya

LihatTutupKomentar