Fenomena Langka di Padang Pasir, Ketika Salju Menyelimuti Gurun Sahara dan Arab Saudi

Foto: Suasana salju turun di Arab Saudi yang dipotret warga. (FOTO INSTAGRAM @HRABGHI)

Detik Kabar  - Pernyataan senada juga dilontarkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, António Guterres. “Kita sedang menuju bencana ‘kenaikan suhu 3-5 Celcius abad ini. Berdamai dengan alam adalah tugas penting di abad Ke-21. Ini harus menjadi prioritas utama untuk semua orang, di mana saja," ungkap Guterres.

Fenomena alam langka terjadi di kawasan Gurun Sahara, Aljazair. Semestinya, pada bulan Januari, salju tidak pernah ada di kawasan gurun tersebut. Gurun Sahara mencakup sebagian besar wilayah Afrika utara dan sudah mengalami perubahan suhu serta kelembaban selama beberapa ratus ribu tahun terakhir. Meski wilayah Sahara sangat kering, peneliti memprediksi dalam waktu 15.000 tahun, Sahara akan kembali hijau.

Dilansir Middle East Monitor, Kamis (21/1/2021), fenomena alam ini diduga terjadi akibat tekanan tinggi udara dengan suhu sangat rendah yang terkonsentrasi di wilayah gurun, lalu bereaksi dengan tingkat kelembaban yang tinggi hingga menimbulkan salju. Seorang juru bicara kantor cuaca dan perubahan iklim Inggris menjelaskan, cuaca dingin di dataran Eropa yang ada di utara gurun Sahara diduga menjadi penyebab munculnya es.

Sehingga, kadar kelembaban inilah yang bisa menimbulkan salju. Hal ini diutarakan ketika terjadi hujan salju di wilayah yang sama pada 2018 lalu, seperti dikutip The Independence.

Tidak hanya di Gurun Sahara, kemunculan butir-butir es juga terjadi di Ain Sefra, sebuah gurun di Aljazair. Suhu di sana bahkan turun hingga minus 3 derajat Celsius pada Rabu (13/1/2021). Ain Sefra dikenal sebagai The Gateway to The Desert, berada sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl), dikelilingi oleh Pegunungan Atlas.

Pemandangan serupa juga terjadi di Arab Saudi. Warga di kawasan Aseer berbondong-bondong keluar rumah untuk melihat fenomena langka saat padang pasir diselimuti es berwarna putih. Suhu di Arab Saudi juga turun drastis hingga mencapai minus dua derajat Celsius.

Perubahan iklim ini sudah berdampak pada sejumlah aspek kehidupan, menciptakan bencana mulai dari kenaikan suhu air laut akibat es di Kutub Selatan dan Utara mencair, kenaikan suhu global sehingga menciptakan gelombang panas di beberapa negara hingga berdampak pada kebakaran hutan dan rusaknya habitat makhluk hidup.

Ahli Meteorologi NASA, Lesley Ott, mengatakan, saat ini sudah terlihat bukti bahwa perubahan iklim secara drastis sudah terjadi dari yang sudah pernah diprediksi. Karena itu, kata dia, sudah saatnya umat manusia berdamai dengan alam. “Tahun ini sudah menjadi contoh yang sangat mencolok tentang bagaimana rasanya hidup di bawah beberapa efek perubahan iklim yang paling parah yang telah kami prediksi,” kata Lesley Ott.

Pernyataan senada juga dilontarkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, António Guterres. “Kita sedang menuju bencana ‘kenaikan suhu 3-5 Celcius abad ini. Berdamai dengan alam adalah tugas penting di abad Ke-21. Ini harus menjadi prioritas utama untuk semua orang, di mana saja," ungkap Guterres.

Selain di Gurun Sahara, pada 2008 dan 2019 lalu hujan salju juga dilaporkan turun di Baghdad, Irak. Penduduk setempat pun heran dengan fenomena alam itu. Sebab, mereka sudah terbiasa dengan cuaca terik. Bahkan, jika masuk musim panas, suhu udara di Baghdad bisa mencapai 50 derajat Celcius. (Middle East Monitor/Independence/kps/wly)

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/22/fenomena-langka-di-padang-pasir-ketika-salju-menyelimuti-gurun-sahara-dan-arab-saudi

LihatTutupKomentar