Tak Ada Rasa Penyesalan Setelah Membunuh, Remaja Ini Malah Acungkan Jari Tengah ke Keluarga Korban
Foto: Remaja ini malah acungkan jari tengah ke keluarga korban saat divonis. TJ Lane hanya tersenyum mengejek dan melepas baju tahanan untuk tunjukkan kaos putih bertuliskan 'pembunuh'. (Via Intisari)


Detik Kabar -  Seorang remaja Ohio mengenakan kaos putih dengan tulisan 'pembunuh' tersenyum, menyumpah, dan bertindak tidak senonoh di pengadilan.

Dilansir dari nydailynews.com, Ia dihukum seumur hidup tanpa banding atas kasus pembunuhan tiga murid SMA dan mencederai tiga murid lainnya.

Aksi itu dilakukannya dalam aksi penembakan 11 tahun yang lalu.

Dalam sidang TJ Lane yang masih berumur 18 tahun, keluarga korban penembakan diberi kesempatan untuk berbicara di pengadilan.

Lane hanya tersenyum mengejek dan melepas baju tahanan untuk tunjukkan kaos putih bertuliskan 'pembunuh'.

Kaos itu sama dengan yang ia pakai di hari ia menembaki korban-korbannya.

Ia bermain-main di kursinya saat keluarga korban naik ke podium dan menyebutnya repulsif, meminta ia dibunuh 'dengan sangat pelan dan menyiksa' dan mengatakan ia seharusnya dikunci 'seperti hewan.'

Selama sidang lain yang menuntun kepada keputusan bersalahnya pada 26 Februari 2012, Lane tetap bermuka datar dan tidak mengenali keluarga korban.

Saat ia diberi kesempatan untuk berbicara di pengadilan, Lane mengabaikan saran dari pengacaranya dan justru menyumpah-nyumpah.

"Tangan yang telah menarik pelatuk yang membunuh anak-anak kalian kini merancap untuk kenangan itu. Persetan kalian semua," ujar Lane sebelum memberikan acungan jari tengah kepada keluarga korban.

Semua syok mendengar pernyataan tersebut dan beberapa mulai menangis.

"Sejujurnya, aku tidak siap untuk ini," ujar jaksa penuntut James Flaiz setelah tindakan vulgar Lane.

"Ini memastikan apa yang telah kita ketahui selama ini, jika memang ini pembunuhan darah dingin, penuh perhitungan.

"Apa yang kita hadapi sekarang adalah manusia menjijikkan," ujar Flaiz.

"Ia masih menolak menawarkan penjelasan apapun atas mengapa ia melakukan ini. Satu-satunya penjelasan yang bisa aku jelaskan ke pengadilan adalah ia orang jahat."

Hakim David Fuhry menghukum Lane tiga hukuman seumur hidup tanpa kemungkinan banding.

Lane tersenyum dan mengangguk menerima hukumannya.

Ibu dari Danny Parmertor, salah satu korban Lane, menceritakan rasa sakitnya dengan pengadilan dan mengamuk kepada Lane.

"Kau tidak pantas dipanggil manusia," ujar ibu yang berduka itu. "Kau adalah monster. Kau lemah, menyedihkan, dan pengecut."

Lane berumur 17 tahun ketika ia membawa pistol kaliber 22 milik pamannya dan pisau ke sekolah Ohio pada 27 Februari 2012.

Ia menembakkan senjata itu 10 kali di dalam kantin SMA Chardon, membunuh Daniel Parmertor dan Demetrius Hewlin yang berumur 16 tahun, serta Russell King Jr yang berumur 17 tahun.

Lane juga mencederai Nicholas Walczak, yang lumpuh dari pinggang ke bawah dan selamanya hidup di kursi roda; Nate Mueller, yang digores di telinga, dan Joy Rickers, yang dirawat setelah penembakan.

Lane bukanlah murid di SMA Chardon, tapi ia berada di tempat itu saat menunggu bus ke Lake Academy di Willoughby, SMA tempatnya bersekolah.

Namun Lane memiliki adik perempuan di SMA Chardon, Sadie Lane.

Ia berbicara singkat kepada wartawan setelah vonis Lane dijatuhkan dan mengatakan orang di pengadilan itu bukanlah kakak yang ia ingat.

"Mungkin sulit bagi sebagian untuk mengerti, tapi aku sayang kakakku dan berharap apapun hukuman yang ia hadapi di masa depan, ia masih dapat menyentuh kehidupan orang lain dalam cara positif dari sudut pandangnya," ujarnya.

Kasus itu awalnya disidang di pengadilan remaja, di mana bukti tunjukkan Lane menderita halusinasi, psikosis dan fantasi menurut AP.

Namun hakim pengadilan remaja menyebut Lane secara mental siap disidang di pengadilan dewasa.

Penyelidik kasus tersebut mengatakan Lane mengakui penembakan tersebut tapi tidak tahu mengapa ia melakukannya.(*/Tribun-medan.com)

Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul "Bukannya Menyesal, Remaja Ini Acungkan Jari Tengah ke Keluarga Korban yang Dibunuhnya saat Divonis"

LihatTutupKomentar