Gara-gara SMS ke Istri, Suami di Sulteng Dipenjara 10 Bulan dengan UU ITE
Foto: Ilustrasi SMS (Dok. Istimewa)

Detik Kabar, Jakarta - Seorang suami di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah (Sulteng), berinisial HM (48) dihukum 10 bulan penjara karena SMS ke istrinya sendiri. Di mata majelis Pengadilan Negeri (PN) Luwuk, SMS dari HM ke istrinya berisi ancaman.

Hal itu tertuang dalam putusan PN Luwuk yang dilansir di situsnya, Jumat (2/7/2021). Kasus bermula saat HM bertengkar dengan istrinya pada Januari 2020. Di dalam suasana amarah, HM mengirim SMS dengan penuh emosi terhadap istrinya sendiri.

Si istri tidak terima dan mengadukan ke aparat kepolisian mengenai isi SMS tersebut. Kasus pun bergulir ke pengadilan. HM, yang sehari-sehari sebagai PNS, pun harus duduk di kursi pesakitan.

Majelis PN Luwuk akhirnya menyatakan HM telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.

"Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 10 bulan dan pidana denda sejumlah Rp 60 juta dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayarkan diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan," ucap majelis yang diketuai Andi Aswandi Tashar dengan anggota Rosiana Niti Pawitri dan Junita Sinar Humombang Nainggolan.

Alasan majelis menjatuhkan hukuman adalah perbuatan HM kepada istrinya menjadikan istrinya ketakutan. Selain itu, putusan di atas demi rasa keadilan dalam masyarakat serta memperhatikan gejolak yang ada dalam masyarakat terhadap tindak pidana sejenis yang sering terjadi dalam masyarakat setempat dengan harapan dapat menimbulkan efek jera bagi masyarakat.

"Terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya. Terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya," beber majelis terkait hal yang meringankan terdakwa.

Penulis Status WhatsApp Dipenjara 3 Bulan

Di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), UU ITE juga dikenakan kepada seorang pria berinisial DKH (28). DKH dihukum 3 bulan penjara karena menulis si status WhatsApp-nya. Majelis menilai status WhatsApp termasuk media sosial dan bisa mencemarkan nama baik orang.

Hal itu tertuang dalam putusan Pengadilan Tinggi (PT) Kupang yang dilansir di website-nya, Jumat (2/7/2021). Kasus bermula saat DKH menulis status WhatsApp pada 20 September 2020. Dalam status itu, DKH menulis dengan menyinggung nama korban perempuan.

Nah, korban tidak terima karena status WhatsApp DKH dibaca oleh beberapa pemilik WhatsApp yang ada di phonebook DKH dan korban. Tidak terima dengan ucapan DKH, korban mempolisikan DKH. Kasus bergulir ke pengadilan.

Pada 25 Februari 2021, jaksa mengajukan tuntutan 4 bulan penjara kepada DKH karena dinilai bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentrasmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Atas tuntutan itu, PN Ende mengamini bila DKH bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentrasmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Namun untuk hukuman, PN Ende menyatakan DKH cukup dihukum 3 bulan penjara.

Mendapati putusan itu, jaksa tidak terima dan mengajukan permohonan banding. Apa kata hakim tinggi?

"Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Ende tanggal 23 April 2021 yang dimintakan banding tersebut," kata majelis yang diketuai Oloan Harianja dengan anggota Jauhari dan I Wayan Sosiawan.

Majelis tinggi menilai putusan PN Ende sudah tepat dan benar sehingga sudah sepantasnya untuk dikuatkan. Terdakwa tidak dijatuhi denda karena pasal yang mengaturnya bersifat pilihan, sehingga hakim bisa memilih, apakah cukup dijatuhi pidana penjara saja, pidana denda saja atau dua-duanya.

"Dalam hal penjatuhan pidana apabila Terdakwa dinyatakan terbukti bersalah, maka hakim dapat menerapkan ketentuan pidana penjara atau pidana denda atau kedua-duanya sebagaimana dimaksud dalam pasal di atas," ucap majelis. 


Sumber: https://news.detik.com/berita/d-5628562/gara-gara-sms-ke-istri-suami-di-sulteng-dipenjara-10-bulan-dengan-uu-ite?tag_from=wpm_nhl_39

LihatTutupKomentar