Sejarah Coca-Cola yang Jadi Minuman Populer, Sang Penemunya Jatuh Miskin dan Meninggal Tragis
Foto: Intisari online

Jika John Pemberton tidak pernah ada, mungkin kita tidak akan bisa menikmati minuman populer di dunia, Coca-Cola. 

Detik Kabar - Minuman Coca-Cola sedang ramai dipercincangkan karena aksi Cristiano ROnaldo.

Cristiano Ronaldo menggeser dua botol Coca-Cola dan menggantinya dengan botol air mineral.

Momen tersebut terjadi dalam konferensi pers jelang pertandingan Hungaria vs Portugal dalam matchday 1 Grup Euro 2020, Selasa (15/6/2021) malam WIB.

"Minumlah Air, bukan Coke (Coca-Cola)," kata Cristiano Ronaldo.

Coca-Cola adalah merek minuman ringan berkarbonasi dari Amerika Serikat yang telah mendunia.

Dikutip dari berbagai sumber, inilah sejarah berdirinya Coca-Cola hingga menjadi merek minuman terbesar di dunia.

Dikutip dari situs resminya, Coca-Cola pertama kali diperkenalkan pada tanggal 8 Mei 1886 oleh John Styth Pemberton.

Pemberton merupakan seorang ahli farmasi dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

Dialah yang pertama kali mencampur sirup karamel yang kemudian dikenal sebagai Coca-Cola.

Pemberton awalnya membuat sirup tersebut sebagai obat penghilang rasa sakit pengganti morfin yang membuatnya kecanduan.

Suami dari Ann Eliza Clifford itu menderita luka parah akibat perang sipil Amerika yang membuatnya mengonsumsi morfin hingga kecanduan.

Ia melakukan banyak ujicoba dengan menggunakan kombinasi berbagai bahan, salah satunya mengombinasikan tanaman coca dengan biji kola.

Pemberton kemudian mengemas sirup hasil ujicobanya itu dan kemudian menawarkannya ke sejumlah toko obat sebagai sampel.

Orang-orang setuju, bahwa bahan campuran itu memang sangat menarik.

Tak puas dengan hasil kombinasi itu, Pemberton lantas menambahkan campuran dengan air berkarbonasi.

Dalam hal ini, ia bekerjasama dengan Willis E Venable, seorang pemilik toko obat.

Sirup yang sebenarnya diperkenalkan sebagai obat yang disebut "tonik otak" itu justru menjadi minuman soda yang dijual lima sen per gelas.

Seiring dengan perkembangannya, seorang pemasar iklan bernama Frank Mason Robinson muncul menawarkan pemasaran produk yang lebih massif.

Dari situlah muncul perusahaan bernama Coca-Cola, yang merupakan gabungan nama dua bahan dasarnya.

Coca-Cola kemudian dibeli oleh pebisnis Asa Griggs Candler yang taktik pemasarannya berhasil membuat merek ini mendominasi pasar minuman ringan dunia sepanjang abad ke-20.

Candler mengambil alih salah satu teknik pemasaran paling inovatif yang pernah dilakukan.

Dia menyewa salesman keliling untuk membagikan kupon Coca-Cola gratis.

Tujuannya adalah agar orang-orang mencoba minuman, menyukainya, dan kemudian membelinya.

Selain kupon, Candler juga memutuskan untuk memasarkan Coca-Cola dengan menempelkan logo pada kalender, poster, buku catatan, dan bookmark untuk menjangkau pelanggan.

Itu adalah satu langkah untuk menjadikan Coca-Cola sebagai merek nasional, bukan hanya merek regional.

Namun Candler melakukan langkah kontroversial ketika dirinya menjual sirup Coca-Cola sebagai obat paten, mengklaim bahwa sirup itu bisa mengobati kelelahan dan sakit kepala.

Pada tahun 1898, Kongres mengeluarkan pajak pascaperang Spanyol-Amerika yang dibebankan untuk semua produk obat.

Ia kemudian ingin menjual Coca-Cola hanya sebagai minuman.

Setelah pertempuran di pengadilan, Coca-Cola tidak lagi dijual sebagai obat.

Ini juga menjadi akhir dari polemik kandungan kokain yang awalnya terdapat dalam Coca-Cola.

Sebagaimana dilansir Live Science, paling tidak hingga tahun 1903, Coca-Cola diyakini mengandung kokain.

Meski Coca-Cola Company membantahnya, namun bukti sejarah memperlihatkan bahwa Coca-Cola dulunya memang memiliki kandungan itu.

Hingga tahun 1929 mereka akhirnya membuang seluruh kandungan yang berkaitan dengan kokain.

Coca-Cola kemudian sukses dominasi pasar minuman ringan dunia sepanjang abad ke-20.

Formula Coca-Cola saat ini tetap menjadi rahasia dagang, namun berbagai resep yang dilaporkan dan rekreasi eksperimental telah diterbitkan.

Minuman ini telah mengilhami para peniru dan menciptakan seluruh klasifikasi minuman ringan yakni cola.

The Coca-Cola Company memproduksi konsentrat yang kemudian dijual ke pabrik Coca-Cola berlisensi di seluruh dunia.

Pabrik botol yang memegang kontrak ekskulsif dengan perusahaan ini memproduksi produk akhir dalam bentuk kaleng dan botol dari konsentrat tersebut, dicampur dengan air yang telah disaring dan pemanis.

Pabrik-pabrik tersebut kemudian menjual, mendistribusikan, dan memasarkan Coca-Cola ke toko-toko eceran dan mesin penjaja.

The Coca-Cola Company juga menjual produknya di sejumlah restoran besar dan distributor jasa makanan.

Berdasarkan studi "Merek Global Terbaik" Interbrand tahun 2015, Coca-Cola adalah merek paling berharga ketiga di dunia, setelah Apple dan Google.

Pada tahun 2013, produk Coke dijual di lebih dari 200 negara di seluruh dunia, dengan konsumen meminum lebih dari 1,8 miliar porsi minuman perusahaan setiap hari.

Coca-Cola berada di peringkat No. 87 dalam daftar Fortune 500 2018 dari perusahaan Amerika Serikat terbesar berdasarkan total pendapatan.

Nasib tragis John Styth Pemberton

Seiring dengan kesuksesannya, Pemberton juga ternyata tak benar-benar bisa lepas dari morfin.

Kecanduannya justru makin menjadi-jadi hingga ia nyaris bangkrut gara-gara mahalnya biaya untuk membeli morfin.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan karena kecanduan morfinnya, Pemberton menjual hak atas formula dan bagian dari perusahaannya.

Pemberton masih percaya bahwa minuman ciptaannya itu akan menjadi minuman nasional di masa depan sehingga ia tetap mempertahankan hak kepemilikannya.

Ia berharap ke depan dirinya bakal memberikan perusahaan itu kepada putranya, Charley Pemberton.

Pemberton berpendapat bahwa meskipun perusahaan lain dapat menggunakan formula itu, tapi Charley tetap memiliki kepemilikan nama Coca-Cola.

Sayang, Charley ternyata lebih tertarik mendapatkan uang dengan cepat sehingga dia menjual apa yang tersisa dari paten ke taipan bisnis Asa Griggs Candler.

Pada bulan Agustus 1888, Pemberton yang telah sakit selama beberapa tahun itu akhirnya meninggal karena kanker perut.

Pada saat kematiannya, Pemberton sudah jatuh miskin dan masih kecanduan morfin.

Menurut Mark Pendergrast, yang menulis buku For God, Country, and Coca-Cola: The Definitive History of the Great American Soft Drink dan Perusahaan yang Membuatnya, Charley Pemberton juga ternyata menderita penyalahgunaan zat adiktif.

Dia merupakan peminum dan pengguna opium dan meninggal enam tahun setelah ayahnya.

(Tribunstyle/ Amr)

Artikel ini telah tayang di TribunStyle.com dengan judul Sejarah Coca-Cola Jadi Minuman Terpopuler di Dunia dan Kisah Tragis Penemunya yang Jatuh Miskin

LihatTutupKomentar