Kabur dari Tahanan, Spesialis Curanmor Ditemukan Tewas di Hutan, Istri Sebut Ada 4 Kejanggalan


Foto: Ilustrasi penemuan mayat perempuan di kamar kos. 

Detik Kabar - Seorang tahanan kasus pencurian sepeda motor bernama Ahmad Fauzi (27) kabur dari penjara dan ditemukan tewas gantung diri di hutan.

Terkait dengan hal itu, istri Fauzi, Iin turut angkat bicara.

Iin menilai ada yang janggal dari kematian suaminya.

Ia meyakini suaminya tidak tewas karena bunuh diri.
 
Ia juga menduga, sebelum tewas, suaminya mendapat tindakan kekerasan.

Bahkan, ia ingin melakukan autopsi ulang untuk mengetahui penyebab pasti kematian suaminya.

Kisah tahanan kasus curanmor bernama Ahmad Fauzi (27) yang ditemukan tewas tergantung di sebuah pohon dalam hutan setelah 2 hari kabur dari Polsek Kota Anyar, Probolinggo, Jawa Timur itu dinilai janggal dan kini mencuat dugaan kematiannya karena pembunuhan.

Istri Fauzi, Iin meminta polisi menunjukkan hasil autopsi kematian suaminya karena ia merasa banyak hal yang janggal.

Setidaknya ada 4 kejanggalan yang dirasakan Iin yakni kondisi suaminya, Ahmad Fauzi saat ditemukan tergantung di pohon, sikap polisi yang melarang keluarga melihat jenazah, pakaian yang dikenakan suaminya saat ditemukan tewas dan kronologis pelarian suaminya.

Meski polisi sudah menyatakan bahwa Fauzi tewas karena bunuh diri namun dugaan pembunuhan justru mencuat.

Keluarga menilai kematiannya sangat berbeda dengan ciri kematian akibat gantung diri pada umumnya.

Istri Fauzi, Iin meyakini suaminya tidak melakukan bunuh diri.

Menurutnya, setelah dirinya melihat secara seksama video saat suaminya ditemukan tewas tergantung di pohon posisi kaki tidak tergantung malahan hampir menyentuh tanah.

"Saya sendiri merasa janggal lihat video penemuan mayat suami saya. Karena gak ada ciri meninggal karena gantung diri misal mata melotot dan lidah menjulur keluar dari mulut," kata Iin.

Iin malah punya firasat kuat sebelum suaminya ditemukan tewas sempat mengalami tindakan kekerasan.

Karena muka suaminya penuh luka lebam seperti baru menerima pukulan.

"Sudah bukan seperti Mas Fauzi. Bibirnya juga seperti habis kena pukul tapi siapa yang melakukan saya gak tahu," ujarnya.

Iin juga mengungkap saat petugas mengirim jenazah ke rumah duka, keluarga dilarang membuka jenazah.

"Jenazah Suami saya datang ke rumah jam 11 malam. Saat itu keluarga tidak boleh membuka jenazah. Polisi langsung meminta langsung dimakamkan," tuturnya.

Bahkan, sampai hari ini polisi belum memberikan surat hasil autopsi. Kejanggalan lain juga masih menyelimuti pikiran Iin.

Kali pertama ditemukan tewas, Fauzi mengenakan baju batik dan celana kolor, padahal setahu dia, suaminya tidak pernah memiliki baju itu.

"Beda waktu pertama ditangkap. Di rumah juga gak ada baju kayak itu," ungkapnya.

Kejanggalan lain yang dirasa Iin adalah kronologi pelarian suaminya sejak dikabarkan kabur dari Polsek.

Sebenarnya sebelum ditemukan tewas, Iin mengaku sempat mendapat kabar soal keberadaan suaminya.

Katanya, setelah Fauzi kabur dari Polsek bersembunyi di rumah guru ngajinya yang berada di Desa Curah Temu.

"Saya dapat telepon dari guru ngajinya. Bilang, suami saya ada di sana. Saya sempat mikir mungkin besok Mas Fauzi pulang tapi ternyata saya dapat kabar dia sudah tewas. Jadi gak sempat ke rumah," ujarnya.

Iin pun berharap polisi bersedia melakukan outopsi ulang karena menurutnya masih ada yang janggal dari hasil gelar perkara.

"Saya kalau punya uang mungkin akan melakukan autopsi mandiri. Tapi itu gak mungkin, saya berharap pak polisi bisa berkenan melakukan autopsi lagi," harapnya.

Sementara, membahas soal riwayat dunia hitam Fauzi, sang istri mengaku baru mengetahui sebulan sebelum akhirnya ditangkap polisi.

Belakangan itu, suaminya sering keluar malam lalu pulang membawa sepeda motor berbeda-beda.

Padahal, keseharian sebelumnya Fauzi hanyalah buruh tani biasa. Merawat ladang sawah milik orang lalu memanen bersama juragannya saat musim panen tiba.

Katanya, gelagat berbeda itu mulai muncul semenjak kawan lama Fauzi yang baru saja bebas dari penjara sering berkunjung ke rumah.

Teman Fauzi itu baru saja menjalani hukuman 4 tahun karena kasus penganiayaan dan narkotika.

"Gara-gara temannya ,suami saya jadi gak bener. Padahal sebelumnya orang diam gak neko-neko," terangnya.

Kini Iin mengaku bingung kemana lagi harus menggantungkan hidup bersama 1 orang anaknya yang masih balita.

Pasalnya selama 4 tahun berumah tangga bersama, Fauzi lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

"Saya orang jauh, dari Brebes. Di sini gak ada saudara. Keluarga Fauzi juga jauh, ibunya di Malaysia, bapaknya di Kalimantan. Gak tahu setelah ini pulang ke Jawa Tengah atau tetap tinggal di Probolinggo," pungkasnya sambil menyibakkan air mata.

Diberitakan sebelumya, Ahmad Fauzi warga Desa Sambirampak, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo sejak 30 april 2021 ditahan di Polres Probolinggo.

Pria ini ditahan bersama satu orang temannya, Herman karena melakukan pencurian sepeda motor di 8 TKP.

Di antaranya Kecamatan Kota Anyar, Pakuniran, Gading, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Situbondo.

Sebulan mendekam di penjara, pada Sabtu (29/5/2021) dirinya dipindah ke Polsek Kota Anyar untuk kepentingan pengembangan TKP lainnya.

Namun, di sela-sela penyedikan Fauzi kabur saat ditinggal oleh petugas.

Menanggapi desas-desus yang beredar, Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Riski Santoso menyatakan, bahwa kematian tahanan itu murni dengan cara menggantung diri di pohon dalam hutan dengan seutas tali.

Bahkan, dari hasil autopsi tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada jenazah Fauzi.

"Benar karena bunuh diri Lidah menjulur dan kemaluannya mengeluarkan air seni," katanya.(SuryaMalang.com/Tony Hermawan)

 SuryaMalang.com dengan judul Curhat Istri Maling Motor yang Kabur & Disebut Tewas Gantung Diri di Probolinggo, Ada 4 Kejanggalan

LihatTutupKomentar