Bolehkah Berdoa Memaksakan Diri Agar Berjodoh dengan Orang yang Kita Sukai? Ini Penjelasannya


Foto: Ilustrasi berdoa 

Detik Kabar - Doa adalah senjata umat muslim ketika menghadapi suatu masalah

termasuk dalam hal mendapatkan jodoh, seorang muslim juga dianjurkan berdoa agar mendapatkan jodoh yang baik.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang lemah, jadi sudah sepatutnya manusia harus memohon kepada Allah SWT dalam memohon berbagai hal.

Itulah mengapa Allah SWT menganjurkan untuk setiap umatnya rajin-rajin berdoa.

Hal itu bertujuan agar kebutuhan dan keinginannya terpenuhi.

Doa sendiri memiliki banyak sekali manfaat bagi kehidupan.

Bahkan, doa juga mampu mengubah takdir seseorang.

Termasuk dalam urusan jodoh.


Foto: Muhammad Ameer Azzikra resmi menikah dengan pujaan hatinya, Nadzira Shafa pada Kamis (10/6/2021) pagi. (Instagram @hijazpictura)

Berdoa memohon kepada Allah agar diberi kemudahan dalam mendapatkan jodoh sangat diperbolehkan.

Termasuk juga memohon agar orang tertentu dijadikan jodoh kita.

Namun dengan catatan kita memintanya (berdoa) dengan cara yang baik dan sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW.

Apa boleh jika berdoa dengan sedikit memaksa, misalnya seperti berdoa agar si dia (pacar, gebetan, teman tapi mesra, atau cinta dalam diam) menjadi jodoh kita?

Dilansir dari Rumaysho.com, ingatlah bahwasanya do’a yang terbaik, kita serahkan pilihan yang terbaik adalah yang Allah SWT pilih.


Foto: Intan Monika (25) dara asal Aceh Utara bersama suaminya Riza Ya?mur (38) atau panggilan Baba seorang Polisi asal negara Turki pada saat pesta menikah 3 tahun yang lalu yaitu pada Jumat (27/7/2018) di Gampong Blang, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara (FOR SERAMBINEWS.COM/Kolase Serambinews.com)

Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Dari sini berarti kita tidak bisa memaksa Allah karena Allah yang tahu yang terbaik untuk kita.

Jika ingin berdo’a, mintalah dengan do’a istikharah.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ

بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى

وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ

“Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih”

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah).

Artikel ini telah tayang di TribunStyle.com dengan judul Doa Memaksakan Diri Agar Berjodoh dengan Orang yang Kita Cintai, Bolehkah?

LihatTutupKomentar