Apakah Orang Kurang Mampu yang Punya Smarthone Boleh Menerima Zakat? Ini Penjelasannya

Foto: Ilustasi Zakat Fitrah. (IST)

Detik Kabar - Ramadhan 1441 H memasuki 10 hari terakhir.

Itu artinya umat muslim sudah bersiap untuk membayar zakat fitrah.

Secara bahasa, zakat berasal dari kata " الزكاة – يزكى – زكى " yang berarti suci, tumbuh, berkah, dan terpuji.

Zakat fitrah adalah zakat wajib yang harus dikeluarkan sekali setahun oleh saat bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri.

Hukum membayar zakat fitrah adalah wajib bagi setiap umat Islam yang mampu, mulai tua, muda, besar, kecil, lelaki, hingga perempuan.

Bahkan bayi yang lahir pada akhir bulan Ramadhan sebelum matahari terbenam pun wajib membayar zakat fitrah.

Besar zakat fitrah yang harus dikeluarkan sebesar satu sha’ yang nilainya sama dengan 2,5 kilogram beras, gandum, kurma, sagu, dan sebagainya atau 3,5 liter beras yang disesuaikan dengan konsumsi per-orangan sehari-hari.

Ketentuan ini didasarkan pada hadits sahih riwayat Imam Ahmad, Bukhari, Muslim dan Nasa’i dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah telah mewajibkan membayar membayar zakat fitrah satu sha’ kurma atau sha’ gandum kepada hamba sahaya orang yang merdeka, laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang dewasa dari kaum muslim.

Zakat fitrah harus diberikan sebelum sholat Idul Fitri kepada mustahik.

Jika tidak maka zakat yang diberikan sama halnya seperti dengan sedekah biasa.

Hal ini sesuai dengan hadist berikut.

Dari Ibnu Abbas; Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari hal yang sia-sia, omongan yang tidak perlu, dan sebagai bantuan makanan bagi orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat (Id), itu merupakan zakat yang diterima. Siapa yang menunaikannya setelah shalat, itu merupakan sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud).

Lantas siapa saja yang berhak memperoleh zakat fitrah?

Sesuai dengan firman Allah dalam surat At Taubah ayat 60, berikut 8 golongan orang yang mendapat zakat fitrah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanya untuk: (1) orang-orang fakir, (2) orang-orang miskin, (3) amil zakat, (4) para muallaf yang dibujuk hatinya, (5) untuk (memerdekakan) budak, (6) orang-orang yang terlilit utang, (7) untuk jalan Allah, dan (8) untuk mereka yang sedang terputus perjalanan jauh (untuk melanjutkan perjalanan), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Bagaimana dengan seorang miskin yang memiliki smartphone? Bolehkan dimasukkan kedalam golongan orang yang memperoleh zakat?

Sebelum memutuskan hal tersebut, ada baiknya kita faham terlebih dahulu pengertian fakir dan miskin.

Dikutip dari rumaysho, dari Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja’, hlm. 344-345, fakir, yaitu orang yang tidak punya harta dan tidak punya pekerjaan untuk mencukupi.

Misalnya, kebutuhan pokoknya adalah sepuluh, ia hanya bisa mencukupi empat atau kurang dari itu.

Sedangkan miskin adalah orang yang belum bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.

Misalnya, kebutuhan pokoknya adalah sepuluh, ia baru bisa memenuhi enam, tujuh, delapan, atau sembilan.

Maka dari itu, orang yang memiliki smartpohne bisa jadi menerima zakat atau bisa juga tidak.

Hal ini berdasarkan pada kemampuan memenuhi kebutuhan pokoknya.

Smart phone di zaman ini bisa jadi masuk dalam kebutuhan pokok karena menjadi kebutuhan anak sekolah.

Sehingga kebutuhan pokok yang dimaksud tergantung zaman dan tempat masing-masing.

(TribunStyle.com / Triroessita Intan P)

Artikel ini telah tayang di TribunStyle.com dengan judul Bolehkah Orang Tak Mampu Tapi Punya Smarthone Menerima Zakat? Simak Kriteria Fakir & Miskin Mustahik

LihatTutupKomentar