Perjuangan Nenek 81 Tahun di Tamiang, Setiap Hari Panjat Kontainer Sampah untuk Bertahan Hidup
Foto: Serambi Indonesia

Detik Kabar - Nek Sutinem terlihat memanjat kontainer sampah di belakang kantor DPRK Aceh Tamiang, Selasa (27/4/2021). Dia lebih memilih bekerja sebagai pengumpul sampah dibanding menjadi peminta-minta. 

Usia renta tidak menghalangi Sutinem mencari nafkah dengan perjuangan dan keringat sendiri. Meski sudah berusia 81 tahun, wanita ini lebih memilih memanjat kontainer sampah dibanding menjadi peminta-minta.

Aktivitas memanjat kontainer sampah ini rutin dilakukan Sutinem setiap hari dalam enam tahun terakhir. Setiap pagi, selepas shalat subuh, Sutinem mengawali harinya dengan berjalan kaki dari rumahnya di Kampung Dalam, Karangbaru menuju komplek perkantoran Pemkab  Tamiang.

Sebuah sweater hijau lusuh sudah cukup melindungi tubuh keriputnya dari dinginnya udara pagi. Beberapa kantung plastik berukuran besar pun selalu dibawa, dan seakan menjadi senjata utamanya untuk mengais rezeki.

Pagi itu, Selasa (27/4/2021), Sutinem masih mengarahkan langkahnya ke sebuah kontainer sampah yang berada di belakang Kantor DPRK  Tamiang. Seakan beradu cepat dengan petugas kebersihan, nenek yang bulan depan berusia 82 tahun ini langsung memanjat dan mencondongkan separuh tubuhnya ke dalam kontainer bertuliskan DLH  Tamiang itu.

Satu per satu sampah yang dinilainya masih memiliki nilai jual dikutip dan dimasukan ke dalam kantung plastik. “Ini dapat kertas sama tempat telur. Lumayan sekilonya laku empat ratus perak,” kata Sutinem tersenyum.

Tak banyak sampah yang dikumpulkan Sutinem dari kontainer pagi itu. Ia pun mencari tambahan dengan berkeliling komplek perkantoran Pemkab. Langkahnya selalu terhenti setiap melihat tong sampah. “Biasanya jalan sampai masjid BTN. Tapi capek, sampai sini saja,” ujarnya.

Sutinem mengatakan, aktivitas mengais sampah ini merupakan satu-satunya opsi dia untuk bertahan hidup. Dulu dia sempat berjualan pecal keliling, namun hanya bertahan tiga tahun karena tak sanggup menggendong bakul dagangannya.

“Sejak suami meninggal sembilan tahun lalu, saya harus berpikir cari makan sendiri. Karena jualan gak sanggup lagi, ya ini (mencari sampah) yang bisa saya kerjakan,” kata Sutinem seraya mengatakan suaminya dulu bekerja sebagai buruh di perkebunan.

Sutinem mengakui dirinya sering kelelahan ketika belum mengisi penuh kantung plastiknya dengan sampah. Bahkan bila tak sanggup pulang berjalan kaki, dia harus menumpang becak dengan ongkos Rp 7 ribu.

Namun, pulang menumpang becak bukanlah keputusan bijak baginya. Sebab dibandingkan penghasilannya yang hanya sekira Rp 200 ribu per bualan, ongkos becak sebesar Rp 7 ribu merupakan pemborosan bagi dirinya. “Saya kumpulkan dulu (sampahnya), nanti sudah sebulan, penuh di rumah, baru saya jual. Dapatnya Rp 200 ribu,” katanya lirih. 

LihatTutupKomentar