Haram Hukumnya Membatalkan Puasa Karena Alasan Bekerja di Bawah Terik Matahari, Ini Dalilnya


Foto: Ilustrasi bekerja di bawah terik matahari - Petani garam sedang mengurai serta mengeringkan garam 

Detik Kabar –  Allah telah memerintahkan kita semua sebagai umat muslim untuk menunaikan rukun Islam ketiga, yakni berpuasa di bulan Ramadhan.

Hal utama yang perlu diketahui saat berpuasa adalah memahami larangan apa saja yang tidak boleh dilakukan yang dapat membatalkan puasa atau mengurangi pahala puasa itu.

Lantas, bagaimana hukumnya jika seseorang membatalkan puasa karena tuntutan pekerjaan di bawah terik matahari?

Perlu untuk dipahami bersama, bahwa Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Dalam ayat tersebut, Allah telah memerintahkan kepada umat Islam untuk diwajibkan berpuasa (dalam hal ini Ramadhan).

Mengutip dari Islamqa.info, Selasa (13/4/2021), yang merupakan situs dakwah, ilmiah dan pendidikan di bawah pengawasan langsung Syekh Muhamad bin Saleh Al-Munajid

Bahwa, membatalkan puasa karena alasan bekerja di bawah terik matahari adalah hukumnya haram.

“Haram atasmu melakukan hal itu dan hendaknya cepat-cepat bertaubat dan banyak-banyak beristighfar serta menyesali perbuatanmu tersebut,” tulis Islamqa.info

Adapun bekerja di bawah terik matahari, bukanlah suatu alasan untuk membatalkan puasa.

Pada saat berpuasa, pekerjaan keras di bawah terik matahari dapat dipindakan pada malam hari

Jika tidak bisa, maka tinggalkanlah pekerjaan tersebut, karena hal itu tidaklah begitu mendesak daripada urusan ibadah.

“Tinggalkanlah dahulu pekerjaan tersebut selama satu bulan atau terus bekerja dengan santai dan ringan sehingga dapat menjalankan ibadah puasa,” tulisnya.

Adapun tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dengan alasan bekerja karena teriknya mahatari, tentu saja hal itu tidak boleh.

Hukum Chattingan dan Video Call dengan Lawan Jenis Saat Berpuasa

Seseorang bertanya, “Apa hukumnya kalau saya kirim surat kepada teman wanitaku lewat internet (chatting) di bulan Ramadan, selama masih dalam batas kesopanan, sementara dia memasang kamera (video call) dan saya dapat melihatnya?”

Kemudian, situs Islamqa.info yang merupakan situs dakwah, ilmiah dan pendidikan, yang berada di bawah pengawasan langsung Syekh Muhamad bin Saleh Al-Munajid, menjawab:

Pertama, di antara tujuan utama syariat Islam adalah menjaga keturunan dan kehormatan.

Oleh karena itu, Allah mengharamkan zina dan mengharamkan semua sarana yang menuju ke sana.

Baik khalwat (berduaan) antara lelaki dengan wanita asing, pandangan berdosa, safar tanpa mahram dan keluarnya wanita dari rumah dalam keadaan memakai minyak wangi dan bersolek, berpakaian namun telanjang.

Di antara sarana tersebut, adalah perbincangan laki-laki dengan wanita.

Laki-laki itu mengeluarkan bujuk rayunya, membangkitkan syahwat agar terjerat pada perangkapnya.

Baik hal itu terjadi di jalan, perbincangan telpon atau surat menyurat, atau yang lainnya.

Sungguh Allah telah mengharamkan istri-istri Nabi sallallahu alaihi wa sallam, padahal mereka adalah wanita-wanita suci dari perbuatan tabarruj (bersolek dimuka umum) ala tabarruj jahiliyah pertama serta berkata mendayu-dayu agar orang yang hatinya sakit menjadi terpesona.

Kemudian Dia memerintahkan mereka agar berkata dengan perkatan yang baik.

Allah Ta’la berfirman dalam QS. Al-Ahzab: 32,

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”

Percakapan dan chatting antara laki dan perempuan lewat internet adalah salah satu pintu fitnah dan kemaksiatan.

Karena akibatnya akan menggiring pada sikap meremehkan pembicaraan yang mengarah kepada sikap saling menyenangi, lalu menimbulkan fitnah.

Oleh karena itu, seharusnya kita menghindar dan menjauhi hal itu dengan niat menggapai ridha Allah dan menjaga diri dari siksa-Nya.

Betapa banyak percakapan semacam ini telah menyeret pelakukan pada keburukan dan bencana, kemudian lahirlah hubungan kasih mesra, dan sebagian menyebabkan perkara yang lebih berat dari itu.

Syekh Ibn Jibrin rahimahullah telah ditanya:

“Apa hukum chatting antara para pemuda dan pemudi, perlu diketahui bahwa chatting ini bebas dari kefasikan, bujuk dan rayu.”

Beliau menjawab: “Tidak dibolehkan seorang pun mengirim surat (chat) kepada wanita yang bukan mahram. Karena hal itu dapat menimbulkan fitnah.

Mungkin pengirim tulisan tersebut menyangka tidak akan terjadi fitnah.

Akan tetapi setan senantiasa menggoda, baik laki-laki tertarik dengan sang wanita dan wanitanya tertarik dengan sang lelaki.

Sungguh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan orang yang mendengar Dajjal agar menjauhinya.

Beliau mengabarkan bahwa seseorang  datang dalam kondisi beriman, akan tetapi Dajjal senantiasa menggodanya sampai dia terkena fitnah.

Perbincangan antara pemuda dan pemudi lewat chattingan mengandung fitnah dan bahaya yang besar.

Seharusnya dijauhinya, meskipun penanya mengatakan, bahwa disitu tidak ada bujuk rayu.“

Kedua, orang yang berpuasa diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dan melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang.

Maksud puasa bukan hanya menahan makan dan minum.

Akan tetapi, maksudnya adalah merealisasikan takwa kepada Allah Ta’ala supaya kalian bertakwa, mendidik jiwa dan terlepas dari amalan-amalan hina dan akhlak tercela.

Oleh karena itu Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersada:

“Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, akan tetapi puasa adalah menahan dari perbuatan sia-sia dan perkataan jorok.” (HR. Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab shahih Al-Jami)

Telah dijelaskan dampak kemaksiatan terhadap puasa, bahwa hal semacam chattingan dan video call dengan lawan jenis dapat menghilangkan seluruh pahala puasa. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Sumber:  https://aceh.tribunnews.com/2021/04/13/haram-hukumnya-membatalkan-puasa-karena-alasan-bekerja-di-bawah-terik-matahari-ini-dalilnya

LihatTutupKomentar