Sakit Hati sampai Membenci, Mulut Sudah Memaafkan namun Hati Masih Sakit, ini Penjelasan Buya Yahya


Foto: Buya Yahya 

Detik Kabar - Sakit hati sampai membenci, sudah memaafkan namun hati masih sakit, ini penjelasan Buya Yahya.

Merasakan sakit hati karena sesuatu ucapan, perilaku orang lain dan sebagainya, memang tidak menyenangkan.

Merasa tersakiti bahkan sampai muncul perasaan benci di hati, karena tindakan orang lain.

Sebenarnya, sakit hati maupun tidak atas tindakan orang lain, kembali ke diri sendiri, menganggap perilaku tersebut sebagai penyebab sakit atau menerima dan tidak mengambil pusing tindakan orang lain.

Karena, yang terpenting, diri sendiri tidak menjadi alasan orang lain sakit hati, terlepas dari orang lain menyakiti, maka itu menjadi tanggung jawabnya dengan kehidupan.

Buya Yahya diberikan pertanyaan oleh jamaah mengenai kebencian, yakni ketika mulut sudah mengatakan sudah memaafkan, namun dalam hati, masih ada perasaan murka.

"Masih Merasa Benci Walau Sudah Memaafkan Buya Yahya Menjawab.

"Sudah berusaha melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain terhadap kita, akan tetapi jika teringat akan kesalahan tersebut kadang masih saja benci. Apakah itu sudah termasuk ikhlas? Dan bagaimana caranya agar ikhlas memaafkan?," demikian tertulis pada postingan.

Berikut ini penjelasan Buya Yahya

Namanya kebencian, tidak serta merta hilang, akan tetapi kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT saat diberikan benci ini, untuk memerangi kebencian.

Benci dalam hati memang tidak mudah untuk dihilangkan, yang penting Anda menganggap kebencian adalah sebuah kesalahan.

Kalau belum hilang, nanti Allah yang menghilangkan.

Yang kedua kebencian di dalam hati tidak boleh keluar dari pekerjaan dzahir Anda.

Artinya jangan sampai menjadikan mimik wajah Anda berubah atau perilaku Anda berubah, justru Anda harus melawan dengan apa yang ada dihati Anda.

Maka itu Anda akan mendapatkan pahala jihad, hati Anda benci, tapi Anda memberikan hadiah kepada anak-anaknya tetap senyum, padahal di dalam hati Anda ada kebencian.

Itu jihad, bahkan pangkat Anda tinggi dengan cara semacam itu, jadi kalau ada benci di dalam hati, maka jangan dihadirkan, jangan lahirkan, kalau sudah begitu ya sudah istimewa, aman.

Namanya benci kan berada di dalam hati, susah dihilangkan, apalagi orang tersebut membuat kesalahan secara berlebihan, sehingga kita menghilangkan pun tidak gampang.

Cuma tidak mudah terpengaruh, dengan perilaku lahirnya.

Orang dijahatin bahkan, maka hendaknya kita membalas dengan kebaikan, kalau bisa begitu, kita tidak akan menuruti hawa nafsu kita, hati kita, itulah makna perjuangan itu.

Kelebihan manusia itu adalah diberi Allah hawa nafsu kemudian dilawan.

Kehebatan kita adalah di saat kita memerangi sifat-sifat tidak terpuji tersebut.

Memang tidak bisa bohong, namun saat semua itu kita perangi dan lahir, padahal dia lagi bermusuhan, dikatakan dalam Alquran itu, orang beriman kalau bermusuhan di dalam hati memang ada amarah, tapi secara dzahir seperti sahabat yang sangat dekat.

Ini baru istimewa, jangan mengaku sudah bersih hati tapi sedih sedikit saja langsung kebawa.

Bahkan kalau memang betul bersih hatinya, mudah untuk memaafkan, tapi kalaupun dia belum bisa, karena dia ingin membersihkan hati, tidak akan ditampakkan dzahirnya, itu yang paling utama.

Demikian penjelasan Buya Yahya, maka seperti yang dijelaskan Buya, kebencian memang tidak mudah dihilangkan dalam hati, karena manusia sulit untuk mengendalikan. 

Yang patut dikerjakan manusia jika perasaannya dirundung kebencian, yakni dengan membuat semuanya terlihat baik-baik saja, meski dalam hati ada kebencian. 

Tidak bermasam muka dan tidak mengubah sifat kepada orang yang dibenci, bahkan sebaiknya, bersikap lebih baik pada orang yang dibenci, agar mereka sadar dan berupaya menjadi pribadi lebih baik dari sebelumnya. (Serambinews.com/Syamsul Azman)

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/02/02/sakit-hati-sampai-membenci-mulut-sudah-memaafkan-namun-hati-masih-sakit-ini-penjelasan-buya-yahya

LihatTutupKomentar