Simak Cara Bedakan Cairan yang Keluar dari Kemaluan Mani Atau Bukan, Lengkap Tata Cara Mandi Junub


Foto: Buya Yahya menjelaskan tidak semua cairan yang keluar dari kemaluan disebut air mani. 

Detik Kabar - Tidak semua cairan yang keluar dari kemaluan disebut sebagai air mani.

Sebagaimana diketahui, keluarnya air mani adalah salah satu sebab yang mewajibkan seseorang baik pria maupun wanita melakukan mandi wajib atau mandi junub. 

Cairan ini juga menjadi salah satu sebab batalnya ibadah puasa yang dikerjakan seseorang, jika keluarnya akibat perbuatan yang disengaja.

Air mani dapat keluar saat seseorang sedang dalam keadaan sadar dan tidak sadar.

Dalam keadaan sadar, air mani bisa keluar karena melakukan hubungan suami-istri, masturbarsi, atau hal lainnya yang bisa mengundang syahwat.

Sementara dalam keadaan tidak sadar, air mani biasanya keluar saat tertidur, atau disebut mimpi basah bagi kaum pria.

Meski sudah mengetahui tanda-tanda cairan yang disebut sebagai mani, akan tetapi ada kalanya seseorang menjadi ragu ketika berhadapan dengan kondisi tertentu.

Misalnya seperti mendapati cairan yang keluar setiap kali ingin tidur atau saat-saat lain yang sepengetahuannya tidak melakukan perbuatan yang mengundang syahwat.

Untuk itu dalam artikel ini akan dibahas mengenai cara membedakan cairan yang keluar dari kemaluan ialah mani atau bukan, yang dikutip dari penjelasan Dai Kondang Buya Yahya melalui sebuah tayangan video yang diunggah di kanal YouTube Al-Bahjah Tv.

Selain itu, tata cara mandi wajib atau mandi junub juga disajikan dalam artikel ini.

Cara BedakanCairan yang Keluar Mani atauBukan

Penjelasan Buya Yahya soal cara membedakan cairan yang keluar dari kemaluan mani atau bukan disampaikan dalam tayangan video berdurasi 7 menitan, diunggah oleh kanal YouTube Al-Bahjah Tv dengan judul Selalu Ada yang Keluar dari Kemaluan Saat Mau Tidur, Wajibkah Mandi Junub? - Buya Yahya Menjawab.

Penjelasan ini disampaikan menanggapi pertanyaan terkait kasus seperti tertulis dalam judul video tersebut

"Bukan semua yang keluar, mohon maaf, bukan semua cairan yang keluar dari alat tersebut lalu dianggap mani," kata Buya.

Bagi orang normal, lanjut Buya, setiap cairan yang keluar dari kemaluan itu ditinjau terlebih dahulu.

Pada kaum pria, selain air kencing ada tiga jenis cairan yang keluar dari organ intimnya, yaitu wadhi, madzi dan mani.

Wadhi adalah cairan yang keluar ketika seseorang lelah atau capek, biasanya setelah mengangkat beban berat.

"Dalam mengangkat barang atau sebagainya, ada endapan-endapan itu turun. Lalu keluar disitu, cairan (wadzi). Semacam lendir begitu," terang Buya.

Selanjutnya adalah madzi yaitu cairan yang keluar karena adanya syahwat, namun bukan mani.

"Tapi itu bukan disebut mani, cairan. Dan wajar bagi pria dan wanita saat ada syahwat akan keluar cairan itu, dan itu tidak disebut mani. Dan Anda tidak wajib mandi karena keluarnya madzi, " jelas Buya.

Madzi memiliki ciri-ciri yang hampir sama seperti wadhi, yaitu berbentuk seperti lendir.

Jenis cairan ketiga ialah mani.

Disampaikan oleh Buya yahya, mani bisa dibedakan dengan melihat 3 ciri berikut ini.

- Saat air mani keluar ada rasa kelezatan atau kenikmatan khusus

- Jika seandainya terlihat, air mani saat keluar dari kemaluan akan ada hentakan, bukan mengucur. Hal ini lebih tampak pada kaum pria ketimbang kaum wanita.

- Air mani memiliki bau yang menyengat atau anyir. Buya Yahya mengatakan baunya hampir mendekati putih telur atau putik bunga matahari.

Tata Cara Mandi Junub

Mandi wajib atau mandi junub ditujukan untuk bersuci dari hadas besar bagi umat Muslim.

Dalam Islam, umat muslim diharuskan untuk mandi wajib terlebih dahulu setelah berhubungan suami istri maupun setelah haid bagi seorang perempuan.

Mandi junub atau mandi besar juga dilakukan untuk menyucikan diri dari hadas besar agar umat Islam kembali bisa melakukan kewajiban atau sunnah Ibadah.

Berikut sebab-sebab seseorang harus melakukan mandi wajib:

- Melakukan hubungan suami istri walaupun tidak keluar mani.

- Keluar mani yang disebabkan hubungan suami istri.

- Nifas, keluarnya darah dari rahim yang disebabkan melahirkan atau setelah melahirkan.

- Ketika seseorang meninggal dunia, dan meninggalnya bukan mati syahid.

- Haid bagi perempuan.

- Orang yang baru memeluk agama Islam.

Adapun tata cara mandi wajib atau mandi junub sebagai berikut.

* Tata cara mandi wajib bagi pria

Melansir Serambinews.com, ada hadits dan beberapa anjuran yang berbeda mengenai tata cara mandi wajib untuk pria.

Menurut HR At-Tirmidzi, menyela pangkal rambut hanya dikhususkan bagi laki-laki. Para wanita tidak perlu melakukan hal ini.

Berikut ini tata cara mandi wajib dengan cara Nabi Muhammad SAW menurut hadits Al Bukhari.

"Dari Aisyah istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi karena junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk salat. Lalu memasukkan jari-jarinya ke dalam air dan menggosokkannya ke kulit kepala. Setelah itu beliau menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya." (HR Al Bukhari)

"Dari Aisyah dia berkata, "Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mandi karena junub, maka beliau memulainya dengan membasuh kedua tangan. Beliau menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan dan berwudhu dengan wudhu untuk salat. Kemudian beliau menyiram rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut hingga rata. Setelah selesai, beliau membasuh kepala sebanyak tiga kali, lalu beliau membasuh seluruh tubuh dan akhirnya membasuh kedua kaki." (HR Muslim)

Berikut ringkasan taat cara mandi wajib bagi pria

1. Mulailah dengan niat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar.
2. Ambil air kemudian membasuh tangan sebanyak 3 kali.
3. Bersihkan semua najis atau kotoran yang masih menempel pada tubuh.
4. Berwudhu sebagaimana ketika hendak salat
5. Mengguyur bagian kepala hingga tiga kali
6. Siram anggota badan sebelah kanan hingga tiga kali, kemudian siram anggota badan pada bagian kiri sebanyak tiga kali juga.
7. Membasuh rambut dan menyela pangkal kepala dengan cara memasukkan kedua tangan ke air, lalu menggosokkannya ke kulit kepala, dan kemudian menyiram kepala tiga kali.
8. Gosok bagian tubuh sebanyak tiga kali, baik pada bagian depan, belakang, atau menyela rambut serta jenggot.
9. Bilas seluruh tubuh dengan mengguyurkan air, dimulai dari sisi yang kanan, lalu lanjutkan dengan sisi tubuh kiri.

* Tata cara mandi wajib bagi wanita

Tata cara mandi bagi wanita, dibedakan antara mandi junub dan mandi setelah haid atau nifas.

Untuk tata cara mandi junub bagi wanita, sama dengan tata cara mandi bagi laki-laki, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Hanya saja, wanita yang mandi junub dibolehkan untuk menggelung rambutnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ummu Salamah, beliau bertanya:


“Wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang gelungan rambutnya besar. Apakah aku harus membuka gelungan rambutku ketika mandi junub?”

Beliau menjawab: “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu menyela-nyelai kepalamu dengan air tiga kali, kemudian guyurlah kepala dan badanmu dengan air, sehingga kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330).

Dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Kami ( istri-istri Nabi) apabila salah seorang diantara kami junub, maka dia mengambil (air) dengan kedua telapak tangannya tiga kali lalu menyiramkannya di atas kepalanya, kemudian dia mengambil air dengan satu tangannya lalu menyiramkannya ke bagian tubuh kanan dan dengan tangannya yang lain ke bagian tubuh yang kiri,” (HR Bukhari: 277 dan Abu Dawud: 253).

Berikut ini, ringkasan tata cara mandi junub seorang Muslimah yang disunnahkan adalah sebagai berikut:

1. Niat (Menurut para ulama niat itu tempatnya di hati).
2. Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.
3. Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.
4. Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah (atau lantai) atau dengan menggunakan sabun.
5. Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.
6. Menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali.
7. Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut atau kulit kepala dengan menggosok-gosokkannya dan menyela-nyelanya (Tidak wajib bagi wanita untuk mengurai ikatan rambutnya).
8. Mengguyur air ke seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Sedangkan untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:

Pertama: dianjurkan menggunakan sabun.

Hal ini berdasarkan hadis Aisyah radhiallahu ‘anha, yang bertanya kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haid. Beliau menjelaskan:

“Kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu wudhu dengan sempurna. Kemudian menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya agak keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian menyiramkan air pada kepalanya. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya.” (HR Bukhari nomor 314 dan Muslim nomor 332)

Kedua: melepas gelungan, sehingga air bisa sampai ke pangkal rambut.

Hadis di atas merupakan dalil dalam hal ini: “…lalu menggosok-gosoknya agak keras hingga mencapai akar rambut kepalanya..”

Hadis ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub, namun harus juga digosok, seperti orang keramas memakai sampo. (Serambinews.com/Yeni Hardika)

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2021/01/03/simak-cara-bedakan-cairan-yang-keluar-dari-kemaluan-mani-atau-bukan-lengkap-tata-cara-mandi-junub

LihatTutupKomentar