Praktik Prostitusi di Puncak, Muncikari Dapat Jatah Rp 100 Ribu, Segini Tarif PSK Muda


Foto: Anggota Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Madiun Kota mengamankan seorang foto model yang diduga terlibat dalam praktik prostitusi online. 

Detik Kabar - Praktik prostitusi di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Bogor yang telah berjalan selama satu tahun akhirnya terkuak.

Para tersangka yakni muncikari berinisial NO (35) dan seorang penjaga vila berinisial LS (33) pun mengurai pengakuan tak terduga.

Rupanya dari hasil menjajakan sejumlah perempuan pekerja seks komersial (PSK), keduanya mendapat jatah bayaran sejumlah ratusan ribu rupiah.

Tak hanya perihal bayaran yang diterima tersangka, tarif PSK atau korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) pun ikut terungkap.

Selain itu, terkuak pula adanya praktik PSK di bawah umur.

Berdasarkan pengungkapan praktik prostitusi di Puncak, PSK yang disediakan NO memiliki usia bervariasi, mulai dari yang usia 17 tahun hingga 31 tahun.

Pengakuan Tersangka

LS, karyawan vila mengurai pengakuan saat diamankan pihak kepolisian.

LS mengaku selama ini menyasar para pengunjung atau wisatawan yang hendak menginap di vilanya untuk menyewa 'jasa' PSK.

LS akan langsung menghubungi NO ketika ada tamu yang berminat dengan PSK.

"Korban ini melayani tamu karena ada permintaan dari tersangka LS, ini salah satu karyawan (vila). LS ini menelepon seseorang atas nama NO yang selaku muncikarinya. NO inilah yang menyediakan," kata Kapolres Bogor AKBP Harun di Mapolres Bogor, Cibinong, Jumat (22/1/2021).

Praktik prostitusi di Puncak ini diawali dengan aksi para pria hidung belang menyewa vila di tempat LS.

"Mereka (hidung belang) menyewa vila kemudian mereka masuk nanti dari karyawan inilah yang menyambungkan ke muncikari. Ya, di lokasi," ujar Harun.

Praktik prostitusi di Puncak yang dikelola NO dan LS rupanya telah berjalan selama satu tahun.

Praktik ini tumbuh subur di tengah pandemi Covid-19.

Mengenai praktik prostitusi tersebut, NO berujar selama ini memiliki 6 PSK.

Keenam PSK tersebut diakui NO siap diantar ketika ada panggilan dari LS.

"Tidak ada unsur pemaksaan karena mereka saling mengenal antara NO dan korban. Korban sebagai saksi saja, korban tersebut kita kembalikan ke orang tuanya masing-masing," kata Harun.

Tarif PSK Muda

Kasus prostitusi di Puncak terkuak usai empat orang PSK digerebek petugas.

Empat orang PSK atau korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ini didapati tengah melayani para hidung belang di masing-masing kamar saat vila tersebut digerebek pertugas.

Salah satu dari mereka bahkan ada yang masih berusia 17 tahun.

"Didapati ada 4 korban yang melaksanakan praktik prostitusi di 4 kamar terpisah. (Usianya) Bervariatif, ada yang berusia 17 tahun, ada yang 31 tahun," kata Harun.

Setelah dikembangkan, polisi mendapati bahwa penjaga vila yang belakangan diketahui bernama LS juga terlibat dalam praktik prostitusi tersebut.

Tarif para PSK yang dijajakan NO dan LS pun ikut terungkap.

NO dan LS memasang tarif kencan Rp 500 untuk setiap PSK yang disewakan.

Adapun untuk pembagiannya, NO dan LS masing-masing mendapat Rp 100 ribu.

Sementara para PSK muda mendapat jatah Rp 300 ribu per klien.

"Didapati keterangan bahwa NO dan LS mendapatkan keuntungan dari setiap korban Rp 100 ribu. Sedangkan korban dibayar dengan Rp 300 ribu. Jadi total (tarif kencan) Rp 500 ribu," katanya.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa 2 unit ponsel, uang tunai Rp 2 juta dan 2 alat kontrasepsi.

"Atas tindakan tersebut kita kenakan pasal 296 KUHP junto pasal 506 KUHP dengan ancamanan hukuman 1 tahun, 4 bulan penjara dan juga kami lapis dengan UU TPPO nomor 21 tahun 2007 tentang TPPO dengan ancaman minimal 3 tahun, maksimal 15 tahun penjara," pungkas kapolres.

Diberitakan sebelumnya, Polres Bogor ungkap kasus prostitusi di sebuah vila di kawasan Puncak wilayah Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor.

Penggerebekan ini dilakukan pada Jumat (8/1/2021) dan diamankan 2 orang tersangka dan 4 pekerja seks komersial (PSK) yang merupakan korban dan dijadikan sebagai saksi.

"Perkara ini diawali dari adanya informasi dari masyarakat, kita dapat informasi di salah satu vila di Megamendung adanya praktik prostitusi," kata Kapolres Bogor AKBP Harun dalam jumpa pers di Mako Polres Bogor, Cibinong, Jumat (22/1/2021).

PSK Timur Tengah

Berbeda dengan PSK lokal, tarif PSK Timur Tengah yang kerap beroperasi dikawasan Puncak dikabarkan mematok harga jutaan.

Rupanya keberadaan PSK Timur Tengah atau yang kerap disebut 'Magribi' pernah diciduk oleh petugas Imigrasi Bogor pada 2016 lalu.

Saat itu ada lima orang wanita asal Maroko yang diduga berprofesi sebagai pekerja seks komersial dan seorang mucikari.

Mereka diamankan di dua lokasi berbeda yaitu di sebuah villa di Kawasan Kecamaan Cisarua.

Saat itu, Kepala Pengawas dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I Bogor Arief Hazairin Sutoto menjelaskan, penangkapan lima pekerja seks dan seorang pria diduga mucikari itu dilakukan setelah pihaknya melakukan penyelidikan sejak dua pekan lalu.

Arief menyebutkan, tidak mudah untuk menentukan apakah mereka memang hanya turis atau PSK.

Perlu penyelidikan lebih dalam untuk memastikannya.

Para perempuan tersebut hanya mau melayani tamu dari Timur Tengah saja dan menolak tamu lokal.

"Kita kan perlu bukti juga. Kita gali informasi, kita lakukan penyelidikan. Sampai akhirnya kita tangkap mereka dan diduga mereka ini yang disebut magribi (PSK asal Maroko) itu," jelas Arief, Selasa (16/8/2016).

Mereka tiba di Indonesia secara legal melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten.

Namun, dari lima perempuan tersebut hanya dua orang yang memiliki paspor.

“Tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan, mereka lebih dari empat kali mengunjungi Indonesia dalam dua tahun terakhir.Hal itu berdasarkan tiket pemesanan pesawat dan tanda bukti transfer sejumlah uang ke keluarganya di Maroko,” ucap Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Bogor Herman Lukman saat itu.

Salah satu perempuan yang diamankan beinisial RA diketahui sudah lebih dari tiga kali ke Puncak, Bogor.

RA yang merupakan perempuan asal timur tengah itu diketahui sudah berkunjung ke Indonesia sebanyak enam kali, dengan rata-rata kunjungan selama dua minggu hingga sebulan lamanya.

"Selain sudah hafal dengan kondisi di Puncak, para perempuan asal Maroko ini juga tahu apa yang harus dikerjakan. Untuk sekali bertemu, mereka mendapatkan uang jasa Rp 3 juta untuk beberapa jam kencan," tutur Herman.

Akhir 2014 lalu, Kantor Imigrasi Kelas I Bogor juga pernah mengamankan 19 perempuan yang diduga berprofesi sebagai pekerja seks komersial di sebuah vila di Ciburial, Cisarua.

Selanjutnya, Februari 2015, perempuan-perempuan tersebut dideportasi ke negara asalnya oleh Direktorat Jenderal Penindakan Kementerian Hukum dan HAM Indonesia.

Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul Pengakuan Tersangka Prostitusi di Puncak - Segini Tarif PSK Muda, Muncikari Dapat Jatah Rp 100 Ribu,

LihatTutupKomentar