Tsunami Aceh 2004 | Penantian Seorang Ayah di Depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Foto: Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Senin 3 Januari 2005. Seorang pria khusyuk berdoa untuk puluhan ribu warga Nanggroe Aceh Darussalam yang meninggal akibat diterjang gelombang tsunami.

Detik Kabar – Tanggal 26 Desember 2004 menjadi tragedi bencana alam yang paling membekas dalam ingatan masyarakat Aceh.

Gempa yang berkekuatan 9,0 SR dan gelombang tsunami setinggi 24 sampai 30 meter menghantam dataran Aceh, menimbulkan lembaran duka dalam sejarah Indonesia.

Ratusan ribu nyawa manusia menjadi korban dari bencana mahadahsyat di abad ini.

Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Senin 3 Januari 2005, memuat tentang kisah seorang ayah yang menanti kepualangan anak semata wayangnya di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Artikel ini kami turunkan kembali pada menjelang peringatan 16 tahun bencana Tsunami Aceh 2004,  dalam topik “Kilas Balik Tsunami Aceh”.

Penantian di Masjd Raya

Pria setengah baya berkulit hitam duduk di bawah pohon di seberang Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Di pundaknya tersandang tas hitam. Matanya lurus memandang ke depan, ke arah lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki.

Debu-debu pekat yang menyesakkan dari kendaraan yang lewat dan bau busuk yang menyengat tak dipedulikannya.

Sudah hampir setengah hari ia tak beranjak dari tempat duduknya.

Hanya sekali-kali terlihat menghisap cigaret.

"Menunggu anak saya Pak,” kalimat pendek itu keluar dari mulutya ketika ditanya apa yang dikerjakan di situ.

Namun matanya masih terus lurus memandang ke arah lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki.

"Saya sudah mencari kemana-mana anak saya tidak ada kabarnya. Saya nunggu di sini siapa tahu anak saya lewat," tambahnya pria yang mengaku bernama M Noor ini.

M Noor tinggal di Sigli, Kabupaten Pidie. Ia mengaku sudah enam hari di Banda Aceh untuk mencari anaknya Linawati (25).

Ia mengaku sudah tidak tahu lagi kemana untuk mencari anak satu-satunya.

la berharap dengan duduk di depan Masjid Raya Raya pusat kota Banda Aceh itu dapat menemukan anaknya.

"Siapa tahu dia lewat di sini," ujarnya pendek dengan pandangan tetap ke arah lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki di depan Masjid Raya.

Penantianya di depan Masjid Raya itu sudah empat hari.

"Kami dua hari putar putar tidak ketemu. Terus nunggu di sini. Semoga nanti dia lewat, " harapnya dengan logat Aceh.

Anak satu-satunya M Noor yang ditunggu-tunggu itu tinggal di daerah belakang Masjid Raya.

Daerah itu termasuk salah satu daerah yang parah tersapu ombak tsunami dan gempa.

Banyak masyarakat yang tinggal di kawasan Itu yang meninggal dan tidak diketahui identitasnya.

"Dia tinggal di belakang masjid sana pak. Dari sinikan dekat. Saya nunggu dia lewat sini," tambahnya lagi.

M Noor tidak sendirian menunggu keluarganya yang hilang di depan Masjid Raya Baiturrahman.

Banyak warga yang melakukan hal yang sama dan dengan harapan yang sama, bisa ketemu keluarga atau sanak saudaranya yang belum diketahui nasibnya.

Mereka tak pernah bosan. Meski hari sebelumnya penantiannya sia-sia, tapi hari berikutnya diulanginya lagi.

Begitu setiap hari sejak gempa dan tsunami meluluhlantakan kota-kota Nanggroe Aceh Darusalam.

M Nazar (18) yang juga mengaku dari Sigli, Kabupaten Pidie. Ia setiap hari bolak balik Banda Aceh-Sigli dengan mengendarai sepeda motor.

Perjalanan sekitar empat jam la tempuh setiap hari. Sudah lima hari ia bolak-balik Banda Aceh-Sigli.

Nazar mencari emaknya dan adik-adiknya. Nazar tidak menyebutkan emak dan adik adiknya tinggal di mana.

Ketika ditanya ia kadang-kadang bengong.

"Gak tau,” jawabnyaya pendek ketika di mana mereka tinggal.

Nazar mengaku tidak sendirian. Ia selalu setiap hari datang bersama empat tetangganya yang juga sama-sama cari keluarganya dengan mengendarai dua sepeda motor.

"Saya pingin melihat mereka. Siapa tahu lewat sini,” tuturnya.

Nazar dan teman-temannya memang tidak nongkrong seharian di depan Masjid Raya.

Sesekali pergi ke bekas banjir dan reruntuhan.

Tapi waktu yang paling banyak adalah dihabiskan untuk menunggu di depan Masjid Raya.

Mereka sangat berharap dapat berjumpa sanak keluarganya yang hilang di depan Masjid Raya.

Mereka harap orang yang di cari lewat di jalan depan masjid.

Banyak hal-hal nyeleneh yang dilakukan orang yang menanti sanak saudara di depan masjid tersebut.

Seperti yang dilaku Sapi'i (50). Anaknya tinggal di Sabang sekarang belum diketahui nasibnya.

Ia tidak pergi ke Sabang untuk mencarinya, tapi justru ia datang depan masjid untuk menunggu anaknya.

"Ongkos kesanan Sampai Rp 75 ribu, saya tidak ada uang. Kalau ke sini hanya lima ribu. Saya datang sini saja, siapa tahu dia lewat di sini," ujarnya ketika kenapa tidak mencari anaknya ke Sabang.

Sapi’i  sudah dua hari menunggu anaknya di depan Raya.(Arsip Serambi Indonesia/Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/amp/2020/12/24/tsunami-aceh-2004-penantian-seorang-ayah-di-depan-masjid-raya-baiturrahman-banda-aceh

LihatTutupKomentar