Kisah Ibu Tiri yang Ketulusannya Diragukan, Endingnya Bikin Haru

Foto: Ilustrasi anak bersama dengan ibu tiri. (iStock) 

Detik Kabar, Jakarta - Kehadiran ibu tiri biasanya sulit diterima anak tiri. Apalagi jika sang anak sudah berusia dewasa. Seperti kisah wanita ini yang berbagi cerita kehidupannya bersama ibu tirinya. Awalnya sempat meragukan ketulusan sang ibu tiri, kini mereka menjalani kisah kehidupan yang manis.

Dalam rangka Hari Ibu yang akan jatuh 22 Desember 2020, Latifah Nisa Taqiyah, mahasiswi Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Jakarta berbagi kisahnya kepada Wolipop bagaimana dia memiliki ibu tiri saat usianya menginjak 18 tahun. Meski baru tiga atau empat tahun belakangan ini menjalani kehidupan bersama sang ibu tiri, Nisa, demikian dia biasa disapa, sudah merasa sangat dekat dengannya.

Berikut kisah Nisa dan kehidupannya bersama ibu tirinya yang diceritakannya kepada Wolipop:

Ayah dan ibu kandung aku sudah lama pisah, dari aku SD. Ibu tiriku hadir saat aku berumur 18 tahun. Umurnya berbeda jauh dari ibu kandungku.

Bisa dibilang aku kekurangan figur ibu sejak lama. Tapi aku masih punya tanteku walaupun kami berbeda kota tapi setidaknya dia cukup bisa sedikit sedikit mengisi figur ibu.

Aku baru saja masuk kuliah saat ibu tiriku hadir di keluarga kami. Jujur tidak mudah awalnya untuk menerima orang baru setelah lama aku terbiasa bertiga saja bersama ayah dan adik laki-lakiku. Ada rasa sudah terlalu nyaman. Dan aku juga merasakan takut ayah gagal lagi.

Usia ibu tiriku yang berbeda jauh dari ibu kandungku sempat membuatku tidak yakin padanya. Saat itu aku berpikir rasanya tidak mungkin pada zaman sekarang, ada wanita yang masih gadis tapi mau nerima ayah aku yang sudah duda punya dua anak dewasa.

Ditambah lagi aku merasa keluarga aku, keluarga yang biasa saja. Ayah bukan orang yang punya harta melimpah atau gimana-gimana. Jadi aku awalnya heran, kenapa si ibu ini tertarik sama ayah aku.

Ayah kemudian mencoba memperkenalkan ibuku ini ke aku dan adikku. Setelah beberapa kali bertemu dan jalan bareng aku mulai merasakan ketulusannya.

Aku juga bisa melihat ayah menjadi lebih happy semenjak deket dengan ibu tiriku ini. Ya sudah akhirnya kita setuju ayah dan ibu menikah. Tapi setelah menikah ibu masih tetap kerja di tempat asalnya jadi beliau hanya di rumah saat weekend saja.

Kalau ibu lagi di rumah, aku senang aja bisa cerita-cerita. Bahas apa aja sama ibu tuh enak gitu. Dia bisa jadi pendengar yang baik. Setelah sekian lama aku kalau cerita mungkin cuma ke teman-temanku aja. Akhirnya aku punya tempat cerita yang bisa diibaratin kayak tempat buat bersandar. Kebetulan ibuku guru, jadi enak kalau diajak diskusi masalah kuliah.

Aku bisa terbuka sama ibuku, ceritain semua yang aku alamin. Sampai hal-hal terburuk sekali pun ibu bisa tetap dengerin tanpa nge-judge aku. Cara dia menasehati aku juga pelan-pelan banget, jadi aku ngga merasa dinasehatin.

Terus yang paling kerasa banget kalau lagi bahas bahas masalah perempuaan atau masalah cowok. Pokoknya hal-hal yang nggak bisa aku ceritain sama ayah, aku bisa ceritain sama ibuku. Bahkan sekarang ibuku mungkin lebih banyak tahu tentang ceritaku dibanding ayah.

Dan yang paling luar biasa, ibu aku tuh orangnya sabaaaaaaaaaaar banget. Aku sampe heran juga kadang. Kenapa aku bilang begitu? Jadi kan aku tinggal sama kakek dari ayah. Nah namanya sudah umur, tingkahnya suka macam-macam bahkan kayak anak kecil lagi.

Orang seisi rumah tuh semuanya sudah menyerah kalau sudah berhubungan sama kakek. Misalnya nih kakek aku dalam satu jam dia bisa nanya 20 kali 'hari ini hari apa.' Kita mungkin kalau mood lagi nggak bagus sudah kesal aja kan bawaannya. Endingnya kadang suka nada tinggi jawabnya. Nah kalo ibu tuh nggak. Dia sabar banget jawabin kakek berulang ulang kali pakai nada lemah lembut.

Terus kalau misalnya ayah aku lagi marah-marah atau lagi ada masalah, atau lagi berantem sama aku, pasti ibu aku yang menenangkan. Dan yang paling aku suka dari ibu tiriku sama ayahku mereka itu selalu mendukung dan mengutamakan urusan pendidikan.

Waktu dulu aku lulus SMA kan aku susah diterima di perguruan tinggi negeri. Banyak lika-liku sampai sekarang akhirnya aku bisa kuliah di universitas negeri. Tapi mereka nggak keberatan gitu aku ikut tes sana-sini. Selain ngeluarin biaya yang nggak sedikit, mereka juga selalu mau nganterin aku tes di manapun, bener-bener dianterin dan ditungguin.

Sekarang ini di masa-masa aku lagi sibuk sebar kuesioner untuk penelitian, ayah dan ibu juga bantuin aku sebar keteman-teman mereka. Apalagi ibuku, dia satu-satu chat ke temannya dan murid-muridnya untuk minta bantuan isi kuesioner aku. Setiap hari ibu pasti tannya aku masih kurang berapa. Intinyaa ibuku benar-benar nunjukin aku tentang arti kesabaran dan ketulusan. 

Sumber: https://wolipop.detik.com/love/d-5303413/kisah-ibu-tiri-yang-ketulusannya-diragukan-endingnya-bikin-haru?tag_from=wpm_nhl_25

LihatTutupKomentar